Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa pemerintah begitu rajin memblokir mesin pencari privasi seperti DuckDuckGo, sementara iklan judi online masih bebas menari-nari di beranda media sosial raksasa?
Setelah 80 tahun merdeka, kita seolah masih terjebak dalam labirin keadilan yang “tajam ke bawah, tumpul ke cuan”. Mari kita bicara jujur: Alasan pornografi dan judi online sering kali hanyalah pintu masuk untuk melegitimasi sensor digital yang lebih dalam.
Hukuman bagi pejabat yang mengkhianati hukum harus dikalikan 100—itu adalah keadilan puitis.

1. Simbiosis Mutualisme: “Tahu Sama Tahu, Cuan Sama Cuan”
Masalah utama bangsa ini bukan kurangnya orang pintar, tapi terlalu solidnya kerjasama antara oknum pejabat dan penegak hukum. Mereka sudah seperti “partner” dalam menutup-nutupi kebohongan. Hasilnya? Lingkaran setan di mana semua pihak saling sandera karena sama-sama tahu “kartu” masing-masing.
Inilah alasan mengapa RUU Perampasan Aset tidak pernah sah. Alasan “masih dipelajari” atau “mencari potensi error” sebenarnya adalah taktik ulur waktu agar senjata itu tidak menusuk diri mereka sendiri.
2. Mengapa Mesin. Pencari Independen Menakutkan?
Mesin pencari seperti DuckDuckGo atau platform video bebas sensor adalah ancaman bagi reputasi. Mengapa?
- Indeksasi Tanpa Filter: Mereka tidak bisa “memesan” algoritma untuk menyembunyikan berita korupsi atau jejak digital negatif.
- Privasi Pengguna: Mereka takut jika rakyat bisa mencari informasi tanpa bisa mereka pantau siapa yang sedang membongkar data-data “panas”.
3. Solusi Ekstrim: Hukuman Kelipatan 100 & Audit AI Otonom
Jika sistem manusia sudah rusak hingga 90-95%, maka kita butuh sistem yang “tanpa perasaan” dan di luar kendali birokrasi.
- Hukuman : Bagi penegak hukum atau pejabat yang menyalahgunakan wewenang, hukuman harus dikalikan 100. Jika hukuman dasarnya 1 tahun, jadikan 100 tahun. Ini sangat manusiawi—mereka punya waktu seumur hidup di penjara untuk merenung, tanpa perlu dihukum mati.
- Audit AI Tanpa Remote: Kita butuh sistem AI yang otomatis membekukan aset pejabat jika harta mereka tak wajar. Tanpa perlu izin menteri, tanpa bisa dihentikan oleh lobi-lobi.
4. 1001 Alasan Keamanan & Pasukan Buzzer
Tentu, mereka akan mengeluarkan 1001 alasan “Keamanan Nasional” untuk menolak sistem ini. Padahal, yang ingin mereka amankan adalah jabatan dan cuan, bukan rakyat.
Pejabat mungkin akan berakting setuju di TV demi suara pemilu, tapi di belakang, mereka mengerahkan pasukan buzzer (yang seringkali adalah akun palsu mereka sendiri) untuk menyerang ide-ide transparansi. Tapi ingat, setiap penolakan terhadap audit jujur adalah pengakuan dosa digital yang nyata.
5. VPN—Pintu Darurat Menuju Kebenaran
VPN sebagai alat menembus sensor, enkripsi data agar tidak diintimidasi oknum, dan cara menghindari narasi palsu buzzer.
Di tengah gempuran blokir “Internet Sehat” yang pilih-pilih tebu, penggunaan VPN (Virtual Private Network) bukan lagi sekadar hobi anak IT, melainkan kebutuhan bagi siapa pun yang haus akan informasi jujur.
Mengapa VPN begitu ditakuti hingga aplikasi resminya pun sering “dihilang-paksakan” dari toko aplikasi lokal?
- Menembus Tembok Sensor: VPN memungkinkan Anda mengakses platform independen seperti DuckDuckGo atau Reddit tanpa filter dari penyedia layanan internet yang sudah “disetir” aturan sensor. Di sana, informasi mengenai borok kinerja atau jejak digital korupsi tidak bisa disembunyikan di balik label hoaks.
- Enkripsi Data (Privasi Mutlak): Dengan VPN, aktivitas pencarian Anda tidak bisa dipantau oleh oknum yang ingin tahu siapa saja yang sedang meneliti aliran dana ilegal mereka. Ini adalah benteng pertahanan bagi rakyat agar tidak mudah diintimidasi hanya karena mencari tahu kebenaran.
- Menghindari Narasi Buzzer: Dengan akses ke media internasional dan mesin pencari tanpa sensor, Anda bisa membandingkan fakta secara objektif. Anda tidak lagi terjebak dalam “gelembung informasi” yang diciptakan oleh pasukan buzzer bayaran di media sosial lokal.
Saran bagi Pembaca: Gunakanlah VPN yang bereputasi dan terintegrasi di browser yang mengutamakan privasi. Ingat, saat pemerintah sibuk membangun “tembok api” untuk menutupi 95% dosa birokrasi, VPN adalah pintu darurat kita untuk tetap melihat dunia dengan jernih.
Kesimpulan: Waktunya Reset Nasional?
Internet Sehat seharusnya bukan tentang membatasi akses rakyat, tapi tentang membersihkan “Birokrasi yang Sakit”. Jika pemerintah jujur, mereka tidak akan takut pada DuckDuckGo. Mereka hanya takut pada kebenaran yang tidak bisa mereka kontrol.
Sudah saatnya kita menuntut keadilan yang sistemik, bukan sekadar janji manis tiap lima tahun sekali.
Kesimpulan Penutup:
Jangan biarkan hak Anda atas informasi dirampas dengan alasan moralitas yang tebang pilih. Jika 80 tahun merdeka belum cukup untuk memberikan keadilan hukum, setidaknya jangan biarkan mereka membelenggu kemerdekaan berpikir kita di ruang digital.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda setuju jika hukuman bagi penegak hukum dikalikan 100 agar ada efek jera yang nyata? Sudahkah Anda menggunakan VPN untuk mendapatkan akses informasi yang lebih adil? Tulis pendapat Anda di kolom komentar!
