Di era digital, kita semakin terhubung — tapi juga semakin terpantau. Digitalisasi layanan publik, identitas digital, dan mata uang digital (CBDC) memang memudahkan hidup. Namun, jika tidak diawasi, teknologi ini bisa menjadi alat kontrol yang mengancam privasi, kebebasan, dan hak asasi manusia.

Apakah Digitalisasi Hanya Kemajuan?
Ya — tapi bukan tanpa risiko. Di banyak negara, digitalisasi tidak hanya memudahkan, tapi juga memaksa warga masuk ke sistem yang bisa digunakan untuk mengontrol perilaku, akses layanan, dan bahkan kebebasan.
Contoh Nyata dari Sistem Digital yang Bisa Jadi Alat Kontrol
- Aadhaar (India): 1,3 miliar orang terdaftar — tanpa ID ini, warga bisa kehilangan akses ke bantuan pangan.
- e-Rupiah (Indonesia): Uang digital yang terhubung ke identitas — bisa dipantau transaksinya.
- Social Credit (China): Sistem penilaian perilaku warga — memengaruhi akses ke layanan publik.
Risiko Utama Digitalisasi
Ini bukan teori konspirasi — ini fakta yang terjadi di banyak negara:
- Pelanggaran Privasi: Data pribadi dikumpulkan tanpa izin — lokasi, pembayaran, bahkan percakapan.
- Diskriminasi Algoritmik: AI menolak bantuan karena “riwayat kredit buruk” — padahal warga miskin butuh bantuan.
- Digital Coercion: Warga dipaksa masuk ke sistem digital — karena tidak ada alternatif.
- Surveillance Capitalism: Korporasi dan pemerintah bekerja sama untuk mengawasi dan memanfaatkan data warga.
Bagaimana Melindungi Diri dari Kontrol Digital?
Anda tidak harus pasif. Ini langkah konkret yang bisa Anda ambil:
- Tuntut Transparansi: Tanyakan ke pemerintah — sistem digital apa yang digunakan? Untuk apa? Siapa yang mengontrolnya?
- Gunakan Hak Anda: Di negara dengan UU PDP atau GDPR — Anda punya hak atas data pribadi. Gunakan itu.
- Gunakan Opsi Non-Digital: Jika ada, pilih layanan non-digital — jangan biarkan sistem memaksa Anda.
- Edukasi Komunitas: Sebarkan informasi ini — agar tidak hanya Anda yang tahu, tapi juga tetangga, keluarga, dan teman.
- Awasi Pemerintah: Jangan biarkan digitalisasi jadi alat legitimasi kekuasaan — tuntut akuntabilitas.
Apakah Ini “Total Control”? Belum — Tapi Risikonya Nyata
“Total control” belum terjadi — tapi arahnya sudah jelas. Teknologi netral, tapi bisa jadi alat kontrol jika tidak diatur dengan etika, transparansi, dan hak-hak warga.
Yang penting: Anda punya hak untuk tahu, punya hak untuk memilih, dan punya hak untuk melawan jika sistem menyalahgunakan kekuasaan.
Referensi & Sumber Terpercaya
Pertanyaan Kritis untuk Anda dan Komunitas
1. Apakah Anda yakin data pribadi Anda aman?
2. Apakah Anda punya pilihan untuk tidak terdaftar dalam sistem digital?
3. Apakah pemerintah Anda transparan soal penggunaan data warga?
Jika jawabanmu adalah “tidak”, maka ini bukan hanya masalah teknologi — ini masalah **kebebasan, hak asasi, dan demokrasi**.
Simpan Artikel Ini untuk Dibaca Nanti
Bagikan artikel ini ke teman, keluarga, atau komunitas Anda. Jangan biarkan informasi ini hanya beredar di satu tempat.
Anak-anak kita tidak akan menyalahkan teknologi.
Mereka akan menyalahkan kita —
Karena kita tahu, tapi diam.
Karena kita lihat, tapi pura-pura tak melihat.Mereka akan hidup di dunia yang kita bentuk hari ini —
Dunia tanpa privasi, tanpa pilihan, tanpa kebebasan yang sebenarnya.Jangan biarkan generasi mereka tumbuh dalam sistem yang kita biarkan berjalan tanpa pertanyaan.
Karena kebebasan bukan warisan — ia adalah tanggung jawab.
Dan tanggung jawab itu, dimulai dari kamu. Sekarang.
